Saturday, February 21, 2015

Rusak Kendaraan Guru, Bentuk Tim Investigasi


Ilustrasi

Minggu, 1 Februari 2015

BEBERAPA hari terakhir, terjadi perusakan kendaraan seorang guru. Tindakan tidak bertanggung jawab tersebut dilakukan di area parkiran SMP IT/SMK Islam Mahkota Al-Munawaroh. Untuk menyikapi insiden itu, pihak sekolah pun membentuk tim investigasi, kemarin (31/1).


Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Satori. “Atas insiden ini, hari ini (Sabtu, 31 Januari 2015, red) kami sudah membetuk tim investigasi. Siapa saja anggotanya? Ini rahasia, dan bekerja juga secara rahasia. Tujuannya untuk menggali dan menghimpun informasi sedalam-dalamnya. Sehingga kita bisa memastikan siapa oknum perusakan,” ujar pria yang gemar traveling saat ditemui di ruang guru, kemarin (31/1).

Selaku guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pihaknya sangat menyesalkan insiden tersebut. Pasalnya, ia selalu mengampanyekan supremasi moral dari kelas ke kelas dalam setiap tindakan siswa-siswinya. Bersama guru Bimbingan dan Konseling (BK), pria kelahiran Tegal tersebut akan memformulasikan punishment yang tepat, memberikan efek jera, dan bersifat edukatif.

Di lain kesempatan, hal senada disampaikan juga oleh Kepala Sekolah setempat, Ami Tri Pradiati. Menurutnya, tindakan seperti ini tidak bisa ditolerir. Apalagi objek perusakan adalah kendaraan gurunya sendiri yang justru selalu mengajarkan kebaikan dan keteladanan. Jelas, itu merupakan hal kontraproduktif. Ya, bak air susu dibalas dengan air tuban.

Guru alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menambahkan, pihaknya sedang menunggu pribadi-pribadi kesatria yang berani mengakui kesalahan sebesar apapun. Jika ada oknum yang berani mengakui kesalahan, ia justru akan memberikan respect yang setinggi-tingginya. Pasalnya, mengakui kesalahan secara sadar bak komoditas langka.

“Saya akan menggaransi reputasi pelaku jika berani mengakui kesalahan secara sadar dan kesatria. Selain itu, saya juga mengimbau kepada para oknum agar tak merasa segan untuk mengakui tindakannya. Bila perlu, pengakuan disampaikan dengan cara face to face. Kami memperingatkan, jangan sampai oknum diketahui oleh tim investigasi, karena itu akan mendapatkan perlakuan yang berbeda,” tutupnya. (rat)

Penulis: Suratmi
Editor: Satori

0 comments: