Saturday, February 21, 2015

Terus Diguyur Hujan, Pembelajaran di Halaman Sekolah Terkendala

BECEK – Kondisi halaman SMP IT/SMK Islam Mahkota yang tampak becek, kemarin (31/1).

Minggu, 1 Februari 2015

AKHIR-AKHIR ini, hujan nyaris selalu mengguyur area SMP IT/SMK Islam Mahkota Al-Munawaroh, Dermasuci, Pangkah, dan sekitarnya. Alhasil, pembelajaran dua sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Lohjinawi (YPPLJ) itu pun terkendala. Khususnya kegiatan yang dilaksanakan di halaman setempat.


Hal tersebut disadari betul oleh salah seorang guru setempat, Komia Pero. “Kondisi alam seperti ini (musim hujan, red), tentu sangat mengganggu aktivitas. Kita tidak mungkin terus melakukan kegiatan di atas lapangan (halaman, red) sekolah yang tergenang air,” jelas pria peraih gelar Sarjana Pendidikan Sains UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, saat ditemui di lokasi kerjanya, kemarin (31/1).

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang terganggu, yakni kegiatan yang berpusat di halaman sekolah. Misalnya olahraga, upacara bendera hari Senin dan peringatan hari besar, serta senam saat Jumat Sehat.

Guru yang menjabat sebagai wali kelas VIII A per 30 Januari 2015 itu menambahkan, untuk menyiasatinya, kegiatan olahraga bisa saja direlokasi di tempat yang lebih kondusif. Misalnya di lapangan sepak bola Desa Dermasuci. Adapun untuk latihan upacara, siswa-siswi terlebih dahulu dapat memberdayakan lingkungan sekitar yang memungkinkan. Misalnya di dalam ruang perpustakaan baru yang masih dalam proses penyelesaian.

Sejatinya halaman sekolah sudah direnovasi beberapa hari terakhir, yakni melalui pembuatan selokan. Alih-alih air mengalir dari hulu ke hilir dengan baik, halaman setempat justru tergenang air. Pasalnya, letak selokan justru lebih tinggi dari permukaan halaman.

Sejauh ini, pihak sekolah belum memiliki inisiatif atau tindakan solutif untuk mengatasinya. Jika terus demikian, tak ayal kegiatan-kegiatan penting yang terpusat di lapangan pun akan sejenak ditinggalkan. Apalagi berdasarkan informasi yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa bulan yang lalu, puncak musim hujan di Pulau Jawa diperkirakan terjadi pada bulan Januari dan Februari.

“Harapan saya, kondisi halaman yang seperti ini harus segera sikapi dan diperbaiki. Misalnya dengan membuat aliran air alternatif agar tidak terjadi genangan air yang berulang. Sehingga anak-anak (siswa-siswi, red) dapat beraktivitas seperti biasa dengan penuh semangat,” pungkas guru yang bertempat tinggal di Adiwerna, Tegal. (aen)

Penulis: Dewi Siti Nuraeni
Editor: Satori

0 comments: