Minggu, 18 Januari 2015
OBAT tak selalu mahal dan instan. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menyiasatinya. Misalnya dengan pemanfaatan ladang kosong untuk apotek hidup. Begitulah yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP IT Mahkota Al-Munawaroh, Dermasuci, Pangkah.
“Ini namanya apotek hidup. Di samping sekolah kita kan ada tanah (ladang, red) kosong, jadi ya bisa dimanfaatkan untuk seperti ini,” ujar pembina PMR setempat, Muhammad Tobiin, saat ditemui di lokasi, kemarin (17/1).
Kegiatan tersebut, imbuhnya, merupakan program kerja PMR per satu semester. Melalui aktivitas seperti ini, siswa-siswi dapat belajar langsung bagaimana cara memberdayakan potensi yang dimiliki lingkungan sekitar.
Sebagai sebagian tanah yang ditanami obat-obatan untuk keperluan sehari-hari, eksistensi apotek hidup sangat berguna. Pasalnya, tanaman tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Selain itu, obat-obatan tradisional cenderung lebih rendah efek samping dibandingkan dengan obat instan dari pabrik.
“Tanaman yang termasuk obat kan seperti jahe, kumis kucing, temulawak, kunir, lengkuas dan masih banyak lagi. Jahe bisa (digunakan, red) untuk menyegarkan dan menghangatkan tubuh. Kalau temulawak untuk penambah nafsu makan. Misalnya kita kena (terkena penyakit, red) panu, gunakan saja lengkuas. Terus, kunir itu untuk menyegah panas dalam dan sariawan, serta baik untuk wanita hamil dan menyusui,” terang pria yang juga menjabat sebagai Waka Bidang Kurikulum setempat.
Untuk menggerakan kegiatan ini, paparnya, peserta didik cukup diberikan kesadaran tentang pentingnya obat-obatan tradisional bagi kehidupan sehari-hari. Kemudian, pihak sekolah dapat mengakomodir peralatan bercocok tanam seperti cangkul dan sabit.
Tak hanya sederhana, bahkan perawatan tanaman seperti ini pun relatif lebih mudah. Misalnya cukup dengan disiram secara teratur. Lalu, setiap individu turut menjaga secara bersama-sama dari berbagai potensi yang merusak.
“Siapapun yang membutuhkan, maka ia berhak untuk menggunakannya sebagai obat. Jadi, melalui hal ini kita bisa belajar tentang bagaimana cara memberikan manfaat kepada sesama,” pungkasnya. (rat/mah)
Penulis: Suratmi dan Nur Hikmah
Editor: Satori




0 comments:
Post a Comment