Saturday, September 12, 2015

Mengaku Muslim, "Wajib" Suka Bahasa Inggris

Google Image
Oleh: Satori

Sudah menjadi rahasia publik, bahasa Inggris ibarat momok di kalangan pelajar, khususnya pelajar Muslim. Fakta ini dapat dijumpai di sekolah-sekolah negeri atau swasta, apalagi di sekolah yang berada di bawah naungan pondok pesantren. Tak peduli salaf atau semi-salaf. Mempelajarinya ialah keengganan. Banyak dalih yang dilontarkan sebagai upaya pembenaran. Mulai dari bahasa asing, susah cara pengucapannya (pronunciation), malas buka kamus, pembelajarannya menjemukan, bahkan dituduh sebagai “bahasa kafir” karena identik dengan Barat yang mayoritas adalah non-Muslim.

Sekadar berbagi pengalaman, saat saya mukim di pondok pesantren dulu, ada beberapa kawan-kawan saya yang tak suka dengan bahasa internasional tersebut. Bahkan ada yang mengatakan, untuk apa belajar bahasa Inggris jika di masyarakat kelak tak ada yang menanyai tentang itu. Toh, hal yang ditanyakan justru seputar permasalahan agama. Malaikat kubur juga tak akan menanyai kita dengan bahasa Inggris. Mindset seperti ini seakan sudah mengakar dan epidemis di kalangan generasi muda Muslim. Ironis!

Alhasil, saya merenung sejenak, apakah tak ada nilai pragmatis (bersifat praktis dan berguna) dari mempelajari bahasa Inggris. Segitu hinakah mendalami bahasa tersebut? Terkadang saya berpikir, realitas seperti ini apakah murni faktor sentimen agama atau karena ketidakberdayaan semata. Menurut saya, faktor kedua lebih dominan: ketidakberdayaan umat Muslim dalam merespons perkembangan zaman, termasuk perkembangan dan kenyataan bahwa bahasa Inggris menjadi bahasa internasional.

Dewasa ini, kita sudah dimanjakan oleh berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi ciri utama peradaban Barat. Siapa sih diantara Anda yang tidak punya akun jejaring sosial? Rasanya mustahil bila ada yang mengatakan tak punya. Mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, Skype, Myspace, Path, Blog, atau BlackBerry Messenger (BBM) mungkin, dan puluhan social media lainnya.

Apakah Anda tahu siapa yang menemukan itu semua? Orang Barat, orang yang berbahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari. Mereka yang pernah Anda tuduh sebagai orang kafir. Tapi hebat, bukan? Oleh karena itu, secara personal saya mengajak Anda semua untuk sejenak membuka hati dan pikiran secara sadar, bahwa hari ini peradaban Barat jauh lebih maju dibandingkan dengan peradaban Timur (Islam).

Kenyataannya semakin terang saat kita mencoba untuk membandingkan jumlah literatur atau referensi yang berbahasa Inggris dengan yang berbahasa Arab (apalagi Indonesia) terkait suatu disiplin ilmu tertentu. Sebagai bukti, silakan Anda cari sendiri referensi kartografi (ilmu atau seni membuat peta). Jawabannya sudah pasti: lebih banyak referensi yang berbahasa Inggris, bahkan kontennya lebih berkualitas pula. Begitu pun dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain.

Apapun kemajuan peradaban Barat dewasa ini, peradaban Timur juga pernah mengalaminya, tapi dulu saat abad pertengahan, sekitar ribuan tahun yang lalu. Rindu? Begitu pun saya. Dulu ketika era Dinasti Abbasiyah berkuasa (132-656 H/750-1258 M), Islam pernah mendominasi ilmu pengetahuan dan teknologi dunia dengan Kota Baghdad (Irak) sebagai simbolnya. Kita menyebut kondisi saat itu dengan The Golden Age of Islam (Zaman Keemasan Islam). Titik kulminasi kejayaan itu berlangsung di era Khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan al-Ma'mun (813-833 M).

Ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu mengalir deras bak air terjun. Mulai dari al-Kindi (filsuf dan astronom), al-Farabi (pakar ilmu politik dan pemerintahan), al-Razi (ilmuwan kedokteran), Ibnu Sina (ilmuwan kedokteran), al-Zahrawi (pakar bedah), Ibnu al-Haitsam (pakar optik), al-Khawarizmi (matematikawan), Jabir bin Hayyan (ilmuwan kimia), al-Biruni (astronom), Ibnu Rusyd (filsuf dan ilmuwan kedokteran), dan ratusan lainnya. Semuanya bernaung di satu atap yang sama, yaitu Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan).

Bait al-Hikmah ialah lembaga penerjemahan, penelitian dan perpustakaan di era Dinasti Abbasiyah yang didirikan oleh Harun al-Rasyid. Kontribusinya tak terelakkan hingga hari ini karena menjadi fondasi ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Bahkan kemajuan peradaban Barat saat ini tak dapat dinafikan dari kontribusi peradaban Islam pada saat itu.

Hebat, bukan? Tapi maaf, pada essay ini saya tidak sedang mengajak Anda untuk bernostalgia dan beromantisme belaka. Namun, saya mengajak Anda semua untuk sedikit berkontemplasi dan belajar dari sejarah. Pertanyaannya: bagaimana cara para ilmuwan Muslim tersebut meraihnya sehingga mampu menciptakan peradaban yang sangat tinggi bagi kemajuan sains dan teknologi pada saat itu? Salah satunya melalui kegiatan penerjemahan literatur-literatur ilmu pengetahun.

Perlu diketahui, saat awal-awal Dinasti Abbasiyah berkuasa, kebudayaan dan peradaban dari bangsa Yunani, Persia, Cina dan India mendominasi dunia. Khususnya ialah Yunani. Filsafat, ilmu medis dan sebagainya sudah berkembang pesat, bahkan saat sebelum masehi. Tokoh-tokoh seperti Socrates, Plato dan Aristoteles menjadi bukti sahih.

Namun ketika era al-Ma’mun (khalifah ke-7 Dinasti Abbasiyah), kebudayaan dan peradaban Islam justru mengambil alih dominasi. Ia muncul sebagai kekuatan baru di seluruh belahan bumi. Seakan-akan umat Muslim “mencuri” ilmu pengetahun dari Yunani. Apa sih hebatnya al-Ma’mun sehingga mampu menyulap Islam menjadi poros ilmu pengetahuan? Ternyata beliaulah yang merevitalisasi (menggiatkan kembali) kegiatan penerjemahan berbagai literatur ilmu pengetahuan berbahasa Yunani dan lainnya kedalam bahasa Arab. Beliau menginstruksikan banyak orang (termasuk non-Muslim) yang menguasai bahasa asing seperti Yunani untuk melakukan kegiatan penerjemahan dan penelitian dalam skala besar. Tujuannya, supaya umat Muslim yang lain dapat memahami ilmu pengetahuan tersebut dengan bahasanya sendiri, bahasa Arab. Oleh karena itu, al-Ma’munlah salah satu dalang dibalik kegemilangan Islam di abad pertengahan.

Baik, sekarang kita kontekstualisasikan realitas dewasa ini dengan belajar dari sejarah. Bila sekarang sains dan teknologi didominasi oleh Barat, tentu kita harus “mengikuti” dan “mengekor” keinginan Barat. Jika mereka menggunakan bahasa Inggris dalam menuangkan ide ilmu pengetahuannya, tentu kita juga mesti belajar bahasa Inggris supaya mudeng (paham, mengerti) dengan ide mereka. Hingga pada akhirnya, kita juga dapat “mencurinya”. Oleh karena itu, bagi siapapun yang mengaku Muslim, wajib belajar dan juga suka bahasa Inggris jika ingin mengulangi The Golden Age of Islam di masa lalu. Wallahu a'lam bi al-shawab. []

Hari gini masih phobia sama bahasa Inggris? Kagak jaman, guys! Let's do so much better!

0 comments: