Saturday, April 4, 2015

Common Enemy of Students

Google

Sebagai suatu kelompok terdidik, mahasiswa memiliki peran yang signifikan dalam melaksanakan rentetan perubahan di Indonesia. Melihat labelnya sebagai kaum terdidik, tak ayal perjuangan yang disuarakan sekaligus dalaksanakan sudah terorganisir dengan baik dan bermuatan intelektual. Alhasil, agenda-agenda perjuangan yang dilaksanakan dapat berjalan secara efektif dan konstruktif. Lihat saja dalam catatan sejarah, perjuangan mahasiswa melalui sebuah pergerakan mencapai berbagai prestasi dan mengantarkan pada sebuah euforia.

Prestasi pemuda tercatat diantaranya ketika lahirnya Boedi Oetomo sebagai seuatu perkumpulan yang menentang kolonialisme dan mnejadi ruh penggerak perjuangan pemuda guna merebut kemerdekaan dari tangan kolonial. Ada pula kejayaan pemuda yang cukup monumental, yaitu ketika pemuda Indonesia melakukan upaya pengamanan Soekarno ke Reangasdengklok guna menyegerakan pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia, sekaligus memproteksi Soekarno dari intervensi kolonial maupun komunis.

Pascakemerdekaan Indonesia, mahasiswa tetap menjadi salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Runtuhnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir pada tumbangnya Orde baru tahun 1998 adalah adalah bukti sekaligus tonggak sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menyuarakan perlawanan dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.

Seluruh komponen masyarakat, khususnya mahasiswa selaku kaum terdidik, menolak isu perubahan dasar negara menjadi sosialis. Inilah yang kemudian mengantarkan pada runtuhnya rezim Orde Lama pada 1966, dan dijadikan sebagai bentuk perlawanan terhadap PKI. Berbeda dengan rezim Orde Lama, Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto yang telah melahirkan sebuah dinasti yang penuh dengan spirit Korupsi, Kolusi, dan Nepotissme (KKN) di Indonesia. Tepat pada bulan Mei 1989, kerusuhan dengan cara menduduki gedung parlemen mewarnai detik-detik dilengserkannya Orde Baru. Hingga pada tanggal 21 Mei 1989 do’a seluruh masyarakat Indonesia terkabul dengan ditandai lengsernya Soeharto dari tampuk jabatan tertinggi negeri ini. Dari sinilah reformasi lahir, dan mengisi semangat reformasi menjadi tugas yang harus ditunaikan bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya mahasiswa.

Alih-alih mengisi reformasi sebagai tanggung jawab individu, justru yang terjadi adalah disorientasi. Pasalnya, dari pascareformasi hingga sampai saat ini sudah banyak perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia, tetapi hanya berorientasi pada kepentingan organisasinya. Implikasinya, perjuangan-perjuangan ideologis semakin tidak lagi diminati oleh masyarakat kita. Indikasinya adalah melemahnya dukungan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa. Ironiya, aksi-aksi tersebut justru mendapat kecaman keras dari sebagian elemen masyarakat karena dalih menyebabkan dampak negatif. Bukan saja lemahnya dukungan dari masyarakat, bahkan minat mahasiswa pada problematika kemasyarakatan pun mulai melemah. Terbukti, aksi-aksi demontrasi hanya melibatkan beberapa kalangan elit organisasi yang berjumlah tidak lebih dari puluhan orang saja.

Perjuangan mahasiswa melalui pergerakannya menjadi jelas dan terarah mengingat pada masa-masa sebelumnya mahasiswa memiliki apa yang disebut dengan common enemy. Misal, mulai dari kolonialisme, komunisme, hingga dinasti dengan spirit Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) ala rezim Orde Baru. Satu suara dan satu komando yang didasarkan pada keinginan luhur membangun bangsa lebih sejahtera dan beradab mampu melebur simbol-simbol organnisasinya. Keinginan luhur yang berupa misi yang sama dengan ragam yang berbeda mampu menjadi fondasi perjuangan mahasiswa.

Berdasarkan uraian tersebut muncul pertanyaan mendasar bagi mahasiswa saat ini, yaitu: Siapa yang menjadi common enemy mahasiswa saat ini? Lalu, bagaiamana cara mahasiswa dalam mengisi reformasi?

Kini penjajahan dan penindasan mengalami perubahan bentuk, mulai dari kolonialisme fisik, rezim ototriter dan diktator, hingga bentuk yang paling baru. Misal, meningkatnya angka kemiskinan, abainya jaminan kesehatan, lemahnya kualitas kesehatan, meningkatnya angka pengangguran, rendahnya infrastruktur transportasi, rendahnya pangan, rendahnya kualitas sekaligus pemerataan akses pendidikan, probelamtika tata kota, lemahnya pengelolaan sumber daya alam (SDA), hingga tidak meratanya pembangunan nasional. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebutlah yang menjadi ‘musuh bersama’ mahasiswa pada saat ini.

Melihat potret demikian, maka konflik antarorganisasi baik oraganisasi intra dengan intra, ekstra dengan ekstra, ataupun intra dengan ekstra sudah kehilangan relevansinya, bahkan dapat dikatakan tidak dapat diterima melalui logika sehat. Seharusnya, mahasiswa harus sadar akan peran dan fungsinya sehingga dituntut untuk berkontribusi mengatasi problematika tersebut. Akan tetapi, faktanya terjadi justru mahasiswa apatis dan tidak proaktif terhadap berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, mereka justru asyik dengan social network yang menjadikannya individu yang asosial. Belum lagi ditambahnya faktor aktivitas akademik yang sangat melelahkan sehingga berujung pada pembentukan individu yang ekslusif, dan kurang sensitif terhadap dinamika sosial-politik yang terjadi di sekitarnya.

Nampak sudah bahwa dimungkinkan akan terjadi transformasi peran mahasiswa, sehingga kita dituntut untuk melakukan restorasi peranan mahasiswa yang bersinergi dengan Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Kondisi seperti ini membuat kita berpikir untuk mengembalikan dan mengoptimalkan hal tersebut.

Sebagai upaya untuk mengisi reformasi ini, mahasiswa harus berkonsentrasi untuk melaksanakan riset, kajian ilmiah, dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh masyarakat kita saat ini. Masyarakat menantikan karya-karya mahasiswa yang mampu dirasakan dan memberikan dampak langsung bagi mereka dalam menyelesaikan berbagai problematika di atas. Karena mahasiswa merupakan kelompok yang memperoleh pendidikan terbaik dan mempunyai pengetahuan luas, sebagai kelompok yang paling lama mengenyam pendidikan, dan sebagai kelompok yang kerap terlibat dalam perbincangan terkait problematika keumatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan. Dari sinilah esensi ‘insan pencipta dan pengabdi’, yaitu perjuangan sejati mahasiswa melalui berbagai pergerakan yang ditopang dengan karya-karya kontributif. Maka, berkarya, berkarya, dan berkarya! Selamat berkarya!

0 comments: