Tuesday, April 14, 2015

Komentar Ami tentang Kembalinya K13 ke KTSP

Google Image

Minggu, 1 Maret 2015

SEMESTER gasal tahun ajaran 2014/2015 silam, semua jenjang pendidikan di Indonesia mulai dari SD (Sekolah Dasar) hingga SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) secara serentak mengimplementasikan Kurikulum 2013. Namun hanya satu semester, hal itu tak berjalan mulus. Alhasil, sebagian besar sekolah ‘terpaksa’ untuk kembali mengimplementasikan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pada semester genap di tahun ajaran yang serupa. Kondisi semacam ini mendapat komentar dari Kepala Sekolah SMP IT Mahkota Al-Munawaroh, Ami Tri Pradiati.

“Untuk menghadapi kenyataan berubah-ubanya kurikulum saat ini, kita lebih memilih untuk memperkuat internal guru terkait perkembangan kurikulum. Misalnya dengan memberikan informasi terbaru seputar K13 dalam rapat-rapat yang rutin diselenggarakan oleh pihak sekolah,” ujarnya saat ditemui setelah jam Kegiatan Belajar Mengajar, kemarin (28/2).

Perempuan kelahiran Cianjur itu, mensinyalir tentang beberapa penyebab tidak diimplementasikan K13 untuk semua sekolah di setiap jenjang pada semester genap ini. Misalnya mulai dari distribusi buku paket yang tidak merata, sumber daya manusia yang tak berimbang, hingga fasilitas teknologi seperti proyektor dan komputer yang tidak memadai.

Selain itu, problem pelik terkait implementasi K13 adalah tentang sistem penilaian autentik. Jika pada KTSP hanya aspek kognitif yang menjadi prioritas utama untuk menetukan peringakat siswa, namun tidak demikian dengan K13. Kurikulum Tematik-Integratif justru wajib mengakomodasi ketiga aspek penilaian baik kognitif, afektif, dan juga psikomotorik.

Alih-alih mendapatkan hasil penilain yang valid, sistem penilaian autentik justru jauh dari ekspektasi. Hal itu sangat lazim, mengingat masalah teknis penilaian tersebut memiliki kompleksitas yang sangat tinggi.

Meskipun K13 mengundang berbagai polemik, tetapi Ami tetap mengimbau kepada semua guru dan siswa untuk tetap menjaga motivasi dalam melaksanakan KBM. “Walaupun akhir-akhir ini kurikulum berubah-ubah, tetapi kita semua harus selalu aktif dan semangat dalam KBM. Kita juga harus memiliki ahklak dan moral yang baik,” tutupnya. (aen)

Penulis : Dewi Siti Nuraeni
Editor : Satori

0 comments: